Kelenteng thien le kong

Peninggalan tempat beribadah etnis Tionghoa satu-satunya yang ada di Samarinda, dibangun pada tahun 1903 oleh orang Tionghoa yang datang melalui perairan sungai Mahakam dan berlabuh di pelabuhan Kutai Lama yang di pimpin oleh keturunan raja Tiongkok. Seiring berjalannya waktu masyarakat Tionghoa mulai berbaur dan bertambah sehingga mereka mendiami pemukiman disekitar pelabuhan di Kota Samarinda dengan meminta izin sebelumnya kepada raja Kutai Timur untuk tinggal di tempat tersebut.
Setelah mendapatkan izin masyarakat Tionghoa mulai membangun berbagai macam infrastruktur salah satunya pembangunan tempat ibadah yaitu kelenteng Thien le kong. Kelenteng ini dijadikan sebagai tempat persembahan bagi dewi (Makco) Thian Siang Sing Bo, Dewa (Kongco) Hian Thian Siang Te serta dewa lainnya yang didirikan oleh “Oey Khoey Gwan”.

Dengan bangunan yang mirip dengan rumah panggung kita bisa melihat air sungai Mahakam yang mengalir dari lantai kaca yang ada di tengah bangunan tersebut. Bangunan ini sangat terjaga keasliannya, kecuali atap dan lantai yang sudah diperbaiki. Ada delapan tiang penyangga dari bangunan kuno ini yang salah satu tiangnya ada yang miring akibat bom untuk meledakkan pabrik minyak goreng yang berada di belakang kelenteng oleh tentara jepang.
Selain dijadikan tempat beribadah, kelenteng ini juga berfungsi sebagai tempat merayakan hari besar atau event bagi umat Tionghoa seperti merayakan satu bulan anak, kesenian barongsai, pawai perayaan imlek, upacara pernikahan, festival mooncake dan kegiatan lainnya.
Kelenteng ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya religi di Kota Samarinda. Sebelum adanya Covid-19, Kelenteng ini ramai di kunjungi oleh wisatawan yang tidak hanya dari warga sekitar melainkan ada juga yang dari luar negeri seperti turis dari Korea, Cina, Turki dan lain-lain.
Intan Mulia 216671042