FESTIVAL BUDAYA KUTAI ADAT LAWAS “NUTUK BEHAM” The Magick of Culture Heritage
“Nutuk” yang berarti menumbuk dan “Beham” adalah padi ketan muda yang ditumbuk dalam “lassung”/lesung yang terbuat dari kayu keras dan “halu”/”alu” alat tumbuk yang digunakan untuk menumbuk “beham” terbuat dari kayu “klihan”/ulin. Festival budaya ini adalah pesta pra panen sebelum panen besar dimulai, dimana hanya padi ketan muda yang dipanen. Festival Budaya Kutai Adat Lawas Nutuk Beham berada di Desa Kedang Ipil Kecamatan Kota Bangun Darat Kabupaten Kutai Kartanegara dan sudah masuk kalender event tetap kabupaten. Festival budaya ini berlangsung dari 2014 di Desa Kedang Ipil dan tempatnya dipusatkan di Balai Adat Desa Kedang Ipil. Sebelumnya hanya dilaksanakan oleh kelompok ladang komunitas Kutai Adat Lawas Sumping Layang Desa Kedang Ipil, dan mereka secara bergantian mendatangi kelompok-kelompok ladang lainnya untuk saling berbagi “Beham” yang sudah mereka tumbuk dan siap di makan.

Festival Budaya Kutai Adat Lawas “Nutuk Beham” berlangsung selama 3 hari di pertengahan bulan Mei atau di musim awal panen, sebelum acara dimulai masyarakat Kedang Ipil sudah mulai mempersiapkan 2 minggu sebelumnya, dari mencari kayu bakar, mencari “ngkuang”/pandan hutan untuk di jadikan tikar sebagai alas saat “nutuk beham”, membuat “lassung”, membuat “alu”, membuat tempat menyangrai padi/gabah ketan sebelum di tumbuk, dan masih banyak lagi persiapan – persiapan yang dilakukan, itu semua dilakukan secara bergotong royang mereka menyebutnya “kraje betulungan” dalam bahasa lokal. Dan lebih bangganya lagi tradisi Nutuk Beham ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada tahun 2022.

Masyarakat Kedang Ipil bergotong royong dan membagi tugas ada yang menumbuk padi “beham”, ada di bagian menyangrai/”mhantuyi”, ada juga di bagian memasak dan perharinya ada 3 RT yang bertugas. kegiatan ini berlangsung selama 24 jam tanpa henti (nonstop) untuk itu pengunjung tak perlu khawatir soal makanan karena tersedia 24 jam di Balai Adat secara gratis pengunjung di perbolehkan makan sepuasnya. Selain itu di malam puncak Festival Budaya Kutai Adat Lawas “Nutuk Beham” tersaji pertunjukan seni dengan talent dari berbagai sanggar seni di KUKAR.

Setelah dari proses panjang tadi “Beham” di “mammangi” atau dibacakan doa sebagai ungkapan Syukur atas panen yang melimpah, prosesi ini disebut “ngasappi” dan ditujukan kepada “pantahun” (Dewi Padi), “kallungan” (roh leluhur), dan orang “kesseh” (sahabat manusia dengan makhluk gaib). Setelah upacara sakral selesai semua masyarakat dan pengunjung diperbolehkan memakan “Beham” yang tersedia ada original ada juga yang di campur gula merah dan kelapa sangrai disebut “bongkal beham”



Ditulis oleh: Arif Aidil Adha / 226671035